Monday, June 30, 2008

Kisah Hamba Allah

Bismillahir Rahman nir Rahim..

Ada seorang hamba Allah, beliau rajin sholat malam dan bermunajat, berkhalwat dengan Al Kholiq. Setiap malam dari kedua matanya yang memerah karena menangis, mengalir air yang membasahi janggutnya, beliau berbisik-bisik lirih memohon beberapa permintaan dan pengharapan. Dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, hingga putih rambutnya tak kunjung jua permintaan beliau di kabulkan oleh Allah. Permintaannya (diantaranya) adalah agar segera diangkat kemiskinan yang menjadi selimut kehidupannya selama ini, keluarganya sering sakit-sakitan, setiap hari ia keluar untuk berusaha memperoleh rezki Allah tapi tidaklah tampak di lapangkan rezki itu untuknya.

Padahal dahulu, ketika ia masih bekerja menjadi petugas cukai wang dan kesenangan adalah kawan akrab. Hingga suatu saat ia mendengarkan ceramah yang menjelaskan bahwa penyelewengan yang sering ia lakukan selama ini dengan kawan-kawannya adalah Haram dan tidak membawa keberkahan, kelak penyelewengan ini akan berhadapan dengan hukum Allah yang tidak bisa di bantah lagi di Akhirat. Bergetar hatinya, masuk hidayah Allah atasnya. Sejak itu tidak pernah lagi ia melakukan perbuatan tersebut, semakin rajin ia melakukan sholatul Lail mengadukan nasibnya hanya kepada Allah Azza Wa Jalla, agar di berikannya harta yang halal dan rezki yang lapang dalam menghadapi hidup ini.

Namun beransur-ansur seakan terkena kualat (karena meninggalkan perbuatan haram itu) penghasilannya semakin menurun, beliau sekeluarga sering sakit dan badannya yang sehat menjadi semakin kurus, anak satu-satunya meninggal setelah menjalani perawatan selama beberapa minggu di rumah sakit. Sampai saat itu ia masih bersabar, tak pernah terucap dari mulutnya kata-kata keluhan dan makian atas apa yang menimpa hidupnya. Malahan menjadikannya semakin sering dan khusyu' ia mendekatkan diri kepada Allah.

Dan malang yang tidak kunjung padam terhadapnya, rasuah yang dahulu ia lakukan bertahun silam terungkap, maka ia dan beberapa orang rakannya terus dipecat tanpa pertimbangan. Subhanallah semakin berat rasanya hidup ini baginya. Tambah satu kalimat panjang di malam harinya ia mengadu kehadapan Robbnya, menangis dan perih rasa bathinnya. Setiap dalam sedihnya ia berdo'a, selalu ada bisikan halus di hatinya, "Apa yang engkau harapkan itu dekat sekali, bila engkau bertaqwa!" Setiap mendengar bisikan itu, timbul semangatnya. Kini setelah ia di pecat, ia berdagang. Baginya dagang yang tidak pernah untung, hutang yang semakin bertumpuk, mushibah yang seakan tiada penghujung....ahhhh.

Setelah puluhan tahun kedepan sejak ia dekat dengan Allah setiap malamnya, tidak juga merobah hidupnya. Sejak puluhan tahun ia mendengar bisikan diatas, tidak juga tampak yang di janjikanNya. Mulailah timbul pemikiran tidak baik dari syaithon. Hingga beliau berkesimpulan, tampaknya Allah tidak ridho terhadap do'anya selama ini. Maka pada malam harinya, ia berdo'a kepada Allah : "Wahai Allah Yang Menciptakan Malam dan Siang, Yang dengan mudah menciptakan diriku yang sempurna ini. Karena Engkau tidak mengabulkan permintaanku hingga saat ini, mulai besok aku tidak akan meminta dan sholat lagi kepadaMu, aku akan lebih rajin berusaha agar tidaklah harus beralasan bahwa semua tergantung dariMu. Ma-afkan aku selama ini, ampuni aku selama ini menganggap bahwa diriku sudah dekat denganMu !"

Beliau tutup do'a beliau dengan perasaan berat yang semakin dalam, dari awal ia berniat seperti itu (mengkhatamkan 'ibadah sholat lailnya). Beliau berbaring dengan pemikiran menerawang hingga ia tak sedar bila ia tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi, mimpi yang membuatnya semakin merasa bersalah. Seakan ia melihat suatu padang luas bermandikan cahaya yang menakjubkan, dan puluhan ribu, atau mungkin jutaan makhluq bercahaya duduk diatas betisnya sendiri dengan kepala tertunduk takut. Ketika beliau cuba mengangkat wajahnya untuk melihat kepada siapa mereka bersimpuh, tidak mampu...kepalanya dan matanya tidak mampu memandang dengan menengadah. Beliau hanya dapat melihat para makhluq yang duduk di hadapan Sesuatu Yang Dahsyat.

Terdengar olehnya suara pertanyaan, "Bagaimana hambaKu si Fulan, hai MalaikatKu?" nama yang tidak di kenalnya. Seorang berdiri dengan tubuh gementar karena takut, dan bersuara dengan lirih, "Subhanaka yaa Maalikul Quddus, Engkau lebih tahu keadaan hambaMu itu. Dia mengatakan demikian : "Wahai Allah Yang Menciptakan Malam dan Siang, Yang dengan mudah menciptakan diriku yang sempurna ini. Kerana Engkau tidak mengabulkan permintaanku hingga saat ini, mulai besok aku tidak akan meminta dan sholat lagi kepadaMu, aku akan lebih rajin berusaha agar tidaklah harus beralasan bahwa semua tergantung dariMu. Ma-afkan aku selama ini, ampuni aku selama ini menganggap bahwa diriku sudah dekat denganMu !" Ampuni dia yaa Al 'Aziiz, yaa Al Ghofuurur Rohiim!"

Tersentak beliau, itu...itu kata-kataku semalam ..oh celaka, fikirnya. Kemudian terdengar suara lagi : "Sayang sekali, padahal Aku sangat menyukainya, sangat mencintainya, dan Aku paling suka melihat wajahnya yang terpejam menangis, bersimpuh dengan menengadahkan tangannya yang gementar kepadaKu, dengan bisikan-bisikan permohonannya kepadaKu, dengan permintaan-permintaannya kepadaKu, sehingga tak ingin cepat-cepat Kukabulkan apa yang hendak aku berikan kepadanya agar lebih lama dan sering aku memandang wajahnya, Aku percepat cintaKu padanya dengan Aku bersihkan ia dari daging-daging haram badannya dengan sakit yang ringan. Aku sangat menyukai keikhlasan hatinya disaat Aku ambil putranya, disaat kuberi ia ujian tak pernah Ku dengar keluhan kesal dan menyesal di mulutnya, Aku rindu kepadanya. Rindukah ia kepadaKu, hai Malaikat-malaikatKu?"

Suasana hening, tak ada jawapan. Menyesallah beliau atas pernyataannya semalam, ingin ia berteriak untuk menjawab dan minta ampun tapi suara tak terdengar, Hatinya seakan akan menjerit.. "Ini aku Yaa Robbi, ini aku. Ampuni aku yaa Robbi, ma-afkan kata-kataku !" semakin takut rasanya ketika tiada yang mendengarnya, mengalirlah air matanya terasa hangat di pipinya. Astaghfirullah !! Terbangun ia, mimpii...

Segeralah ia berwudhu', dan kembali bersujud dengan bertambah khusyu', kembali ia sholat dengan bertambah panjang dari biasanya, kembali ia bermunajat dan berbisik-bisik dengan Al Kholiq dan berjanji tak akan lagi ia ulangi sikapnya malam tadi selama-lamanya.

"...yaa Allah, yaa Robbi jangan Engkau ungkit-ungkit kebodohanku yang lalu, ini aku hambaMu yang tidak pintar berkata manis, datang dengan lumuran dosa dan segunung masalah dan harapan, apapun dariMu asal
Engkau tidak membenciku aku rela.. Yaa Allah, aku rindu padaMu..."

Semoga menambah keimanan dan ketekunan kita dalam mengerjakan sholatul lail....Aamiin !!

Saturday, June 21, 2008

Kisah Sahabat r.anhum

Orang yang Disegani Malaikat

Siti Aisyah ra meriwayatkan bahawa pada suatu hari Abu Bakar minta izin bertemu Rasulullah sedang berbaring dan bajunya terangkat sehingga salah satu betisnya nampak.

Selesai berbincang, Abu Bakar pun segera pulang. Kemudian datang Umar dan selepas berbincang beberapa waktu lamanya.

Umar pun pulang. Kebetulan Uthman datang dan minta izin bertemu dengannya.

Mendengar Uthman yang datang, Rasulullah tiba-tiba duduk dan merapikan pakaiannya, lalu menutupi betisnya yang terbuka.
Selepas Uthman pulang, Aisyah bertanya: ”Ya, Rasulullah engkau tidak bersiap bagi kedatangan Abu Bakar dan Umar seperti kepada Uthman.”

Rasulullah SAW menjawab: ”Uthman seorang pemalu. Kalau dia masuk sedang aku masih berbaring, dia pasti malu untuk masuk dan akan cepat-cepat pulang sebelum menyelesaikan hajatnya. Hai Aisyah, tidakkah aku patut malu kepada seorang yang disegani malaikat”. (Hadis Riwayat Ahmad)

Rasulullah SAW mengangkat malu ke permukaan sebagai teladan dan pelita dalam mendidik umat. Bukankah Rasulullah SAW bersifat pemalu bahkan lebih pemalu daripada seorang gadis pingitan?

Bukankah beliau juga bersada: ”Malu tiada menimbulkan kecuali kebaikan”

Penyair juga menyanyikan sajak malu sebagai berikut bermaksud: ”Seorang tetap dalam kebaikan selama bersifat pemalu (Kayu gaharu tetap berharga selama ada kulitnya). Demi anda dan ayah anda, tidak ada kebaikan dalam kehidupan. Dan tidak pula di dunia bila hilang malunya”


Kesabaran Abu Bakar r.a atas kekurangan pakaian dan khabar gembira dari Jibrail a.s

Telah dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Al-Hilyah daripada Ibnu Umar r.a katanya: ”sedang Nabi saw duduk dan Abu Bakar berada di sebelahnya yang sedang memakai sehelai jubah yang diikat dengan duri di bahagian dadanya. Jibrail telah turun kepada Rasulullah SAW dan menyampaikan salam daripada Allah kepada baginda SAW dan berkata: ”Ya Rasulullah, aku tidak pernah melihat keadaan Abu Bakar memakai jubah yang diikat dadanya dengan duri”. sabda Rasulullah SAW: ”ya jibrail, beliau telah membelanjakan hartanya untukku di jalan Allah sebelum pembukaan Mekah.”

Jibrail berkata kepada Rasulullah SAW: ”Sampaikan salam dari Allah kepadanya dan tanyakan kepada beliau bahawa Tuhan kamu bertanya kepadamu: ”Adakah engkau redha denganKu dalam keadaan kefakiranmu ataupun engkau marah padaKu?”

Apabila mendengar yang sedemikian: salam dari Allah SWT dan pertanyaan itu, Abu Bakar r.a telah menangis dan berkata:”Adakah patut aku marah terhadap Tuhanku? Aku redha dengan Tuhanku. Aku redha dengan Tuhanku!”

Friday, June 20, 2008

Rindu yang Tiada Penghujung

Bismillah hir Rahman nir Rahim

Segala puji hanya untuk Allah Tuhan Azza Wa Jalla...di atas kurniaan nikmat yang tak pernah putus untuk setiap makhluk ciptaan-Nya..Selawat dan salam untuk Rasul junjungan S.A.W serta ahli keluarga baginda, para sahabat baginda, dan sesiapa sahaja yang mengikuti baginda yang menegakkan sunnahnya dan berdakwah atas jalan agama ALLAH.. rahmat ALLAH S.W.T atas kalian hingga ke hari kiamat..insyaAllah amin ya Rabb....

Lama tak menulis.. terasa nak menulis tapi tak de kesempatan. ALLAH...berhadapan dengan ujian demi ujian...terasa rindu untuk menulis..bukanlah nak luahkan apa yang tersirat di hati...cukuplah untuk menenangkan jiwa yang sentiasa resah , iman yang sentiasa lemah...ALLAH.. bicara iman...ujian yang berat tika ini...terasa iman semakin lemah, amal tak menentu, melebihkan manusia dari diri-Nya.....ALLAH.. sedang kematian itu amat dekat..kepada-Mu aku dihadapkan...aku perlukan Engkau setiap saat kehidupan ku, jangan Engkau biarkan aku, jangan aku diabaikan, jangan pula aku ditinggalkan...janganlah dikira aku salah andai aku tidak tahu, andai aku lakukannya tanpa sedar.. berikan aku petunjuk-Mu dalam meraih redha-Mu...

Rindu yang tiada penghujungnya untuk mama bapa yang sentiasa dikasihi, untuk adik-adik yang sentiasa diingati dan dirindui.. terasa rindu saat ini. Cukup lah Dia yang memelihara mereka..semoga mereka sentiasa dalam rahmat ALLAH..itulah harapan.


Buat adik ku, azmi.. rindu padanya hanya ALLAH yang tahu. Alhamdulillah sempat juga bertemu masa balik kampung bercuti hari tuh. Sukar nak jumpa, sebab dia duduk menyewa dengan sahabat2 yang lain.. jarang pula balik ke rumah atas sebab2 / hal2 yang tertentu. Semoga akhi sentiasa dalam pemeliharaan Allah.. berita terbaru yang ana dengar, dia nak keluar dakwah 4 bulan.. Alhamdulillah..Semoga segala urusannya dimudahkan ALLAH S.W.T. Terasa tenang sekali bila bersembang dengan adik yang sorang nih.. sebab suka bayan kat ana, tentang Rahim ALLAH, tentang iman..Maha suci ALLAH yang masih memberi aku peluang untuk berbicara tentang-Nya yang Maha Hebat.. setiap hari bicara dunia, dunia, dunia…sekali sekala bicara tentang kebesaran-Nya, tentang kehebatan-Nya..tersentuh hati…

Senang sekali bila mendengar sedikit berita gembira mengenainya.. walau apa jua yang dia lakukan, ana sentiasa support dan doakan supaya setiap urusannya dimudahkan ALLAH...setiap manusia memang tak lepas dari kesalahan dan kesilapan.. itulah yang ana pegang…walau sebesar mana kesalahan yang manusia lakukan kat kita, tidak layak untuk kita mempersoalkannya, hatta sebesar zarah dosa itu. Cukup lah ALLAH yang menilainya…kesilapan apa? Tak de apa..:) Setiap manusia tak lepas dari melakukan silap..eermm.. yang pasti, syukur ke hadrat ALLAH S.W.T atas pertolongan-Nya pada tiap ujian yang melanda..tiada daya dan upaya melainkan dengan izin-Nya…

Wajah Kesayangan Hamba

Buat ukhti, adik2 yang lain..semoga urusan mereka sentiasa dimudahkan ALLAH hendaknya..tiada apa yang diharapkan melainkan pemeliharaan ALLAH atas mereka…masing2 dah dewasa, masa depan mereka sedikit sebanyak merisaukan ana juga..tapi apa jua perancangan manusia, ALLAH lebih berhak dengan keputusan-Nya..Tiada apa yang ana harapkan melainkan agama..Kejayaan manusia hanya dalam agama ALLAH..Biarlah ada seseorang yang membantu ana dalam usaha atas agama..Diri sendiri tak mampu, hanya Dia yang tahu…Lambat atau cepat urusan tuh, ana tak kisah..yang penting maghfirah-Nya untuk ana dalam apa jua urusan, especially urusan agama..insyaALLAH amin ya RABB……

Sunday, June 15, 2008

Kisah Para Sahabat r.a.hum (Bab - Semangat Keagamaan Kanak-kanak)

1. Menyuruh Kanak-kanak Berpuasa

Hazrat Rubayyi’ binti Muawwiz r.anha telah berkata, ”Rasulullah S.A.W telah mengiklankan, ”Hari ini ialah hari Asyura (10 Muharram), hendaklah kamu berpuasa.” Selepas itu kami selalu berpuasa dan menyuruh anak-anak kami berpuasa. Apabila mereka menangis kelaparan, kami akan memujuk mereka dengan permainan yang dibuat dari kapas. Mereka akan dibiarkan bermain sehingga waktu berbuka puasa.” [Bukhari]

2. Hazrat ’Umair r.a Menyembunyikan Diri Ketika Peperangan Badar

Hazrat ’Umair bin Abi Waqqas r.a ialah seorang sahabat yang muda. Beliau telah memeluk islam sejak awal lagi. Beliau ialah adik kepada Hazrat Sa’ad bin Abi Waqqas r.a seorang sahabat yang masyhur. Hazrat Sa’ad r.a berkata, ”Dalam peperangan Badar, semasa tentera sedang bersiap sedia untuk bertolak, saya melihat adik saya berjalan ke sana sini menyembunyikan diri supaya tiada seorang pun yang menyedari kehadirannya. Saya sangat hairan melihat keadaannya itu. Saya pun bertanya kepadanya, ”Apakah yang telah berlaku? Kenapa kamu ke sana dan ke sini menyembunyikan diri?”

Beliau menjawab, ”Saya takut Rasulullah S.A.W akan nampak saya lalu melarang saya daripada menyertai peperangan kerana menganggap saya masih kecil. Jika demikian, saya tidak dapat pergi. Saya ingin sekali menyertai peperangan. Mudah-mudahan Allah S.W.T akan mengurniakan kepada saya kesyahidan dengan apa-apa cara sekalipun.”

Akhirnya apabila pasukan tentera diajukan untuk diperiksa kepada Nabi S.A.W maka kebimbangannya menjadi kenyataan. Rasulullahh S.A.W telah melarangnya kerana umurnya yang masih muda. Walau bagaimanapun, keinginan yang sungguh-sungguh menyebabkan beliau tidak dapat menahan perasaan lalu menangis.

Setelah Rasulullah S.A.W mengetahui tentang keghairahan dan tangisannya itu maka Baginda S.A.W pun membenarkannya. Beliau telah menyertai peperangan dan cita-citanya yang kedua pun telah tertunai yakni beliau telah syahid di dalam peperangan tersebut.

Hazrat Sa’ad r.a berkata, ”Disebabkan badannya yang kecil dan pedangnya yang besar, saya terpaksa menyimpul tali di pinggangnya beberapa kali supaya pedang itu tinggi sedikit.” [Isobah].

3. Dua Orang Budak Ansar Membunuh Abu Jahal.

Hazrat Abdul Rahman bin A’uf r.a ialah seorang sahabat yang besar lagi masyhur. Beliau berkata, ”Semasa peperangan Badar saya berdiri dalam barisan pejuang-pejuang. Saya melihat di kiri kanan saya ada dua orang budak Ansar. Saya terfikir alangkah baiknya kalau saya berada antara orang-orang yang kuat. Apabila ada keperluan, boleh tolong menolong antara satu sama lain. Di kedua dua tepi saya hanya ada budak sahaja. Apakah yang boleh mereka tolong? Tiba-tiba salah seorang daripada mereka memegang tangan saya lantas bertanya, ”Pakcik, adakah pakcik kenal Abu Jahal?”

Saya berkata, ”Ya, saya kenal. Apakah yang kamu kehendaki?”

Budak itu menjawab, ”Saya mendengar bahawa dia telah mencaci Rasulullah S.A.W. Demi Zat yang memegang nyawaku dalam genggaman-Nya, jika saya melihatnya maka saya tidak akan meninggalkannya selagi dia tidak mati ataupun saya yang akan mati.”

Saya begitu kagum dengan jawapannya itu. Kemudian budak yang kedua juga bertanya soalan yang sama dan dia juga berkata sebagaimana yang dikatakan oleh budak yang pertama tadi. Kebetulannya saya terpandang Abu jahal sedang berlari-lari di medan perang. Saya pun berkata kepada mereka, ”Itulah dia orang yang kamu tanyakan kepadaku.”

Mendengarkan itu, mereka berdua terus berlari dengan perang terhunus di tangan. Mereka berdua pergi ke sana dan mula menyerang dengan pedang sehinggalah Abu Jahal dapat dijatuhkan. [Bukhari].

Keterangan

Kedua-dua budak tersebut ialah Hazrat Mu’az bin ’Amr bin Jamuh r.a dan Hazrat Mu’az bin Afra’ r.a. Hazrat Mu’az bin ’Amr r.a berkata, ”Saya mendengar orang ramai berkata bahawa tiada siapa pun yang boleh membunuh Abu Jahal. Dia dikawal begitu rapi. Daripada saat itulah saya terfikir bahawa saya mesti membunuhnya.”

Kedua-dua budak itu berjalan kaki sementara Abu Jahal pula menunggang kuda. Ketika Hazrat ’Abdul Rahman r.a melihatnya dan ketika kedua-dua budak itu berlari ke arahnya, Abu Jahal sedang membetulkan barisan-barisan tentera. Oleh sebab dia sedang menunggang kuda maka susah untuk menyerangnya. Oleh sebab itu, salah seorang daripada budak-budak itu menyerang kuda dan seorang lagi menyerang kaki Abu Jahal.

Akibat serangan itu, kuda itu pun rebah dan Abu jahal pula jatuh dan tidak dapat bangun lagi. Kedua-dua budak itu telah menyerangnya begitu sekali sehingga dia tidak dapat bangun lagi sebaliknya dia terus menggelupar di situ kemudian barulah mereka meninggalkannya. Hazrat Mu’awwiz bin Afra’ r.a saudara Hazrat ’Amr bin Afra’ r.a telah menambahkan lagi kecederaan abu jahal supaya dia tidak dapat melarikan diri. Namun beliau tidak terus membunuhnya. Selepas itu, Hazrat Abdullah bin Mas’ud r.a telah memenggal kepalanya.

Mu’az bin ’Amr r.a berkata, ”Sewaktu saya menyerang kaki abu jahal, anaknya ’Ikramah ada bersama. Dia telah menyerang bahagian bahu saya yang menyebabkan tangan saya terpotong tetapi tinggal sedikit kulit yang menyebabkan tangan saya itu tergantung-gantung. [Asadul-Ghabah].

Saya telah meletakkan tangan yang tergantung itu di belakang saya dan sepanjang hari saya berperang dengan sebelah tangan. Apabila keadaan tangan saya yang tergantung itu menyusahkan saya maka saya telah menekan tangan itu di bawah kaki dan merentap dengan kuat. Tangan itu pun terpisah dari tempat ia tergantung dan saya telah membuang tangan itu.” [Tarikhul-Khamis].

4. Hazrat ’Amr bin Salamah r.a Menghafal Al-Quran Ketika Masih dalam kekufuran.

’Amr bin Salamah r.a berkata, ”Kami tinggal di suatu tempat yang terletak dalam perjalanan ke Madinah. Mereka yang keluar masuk ke Madinah akan lalu di kampung kami. Kami akan bertanya kepada mereka yang baru pulang dari Madinah. ”Apakah keadaan yang berlaku di kalangan orang ramai? Apakah berita tentang seorang lelaki yang mengaku menjadi nabi?” Mereka akan menceritakan, lelaki itu berkata bahawa wahyu turun ke atasnya dan ayat sekian-sekian telah turun. Pada masa itu saya masih kecil. Saya akan mengingatkan ayat-ayat yang mereka bacakan. Demikianlah sehingga saya telah menghafal banyak ayat al-Quran sebelum saya memeluk islam lagi.

Semua orang Arab menunggu-nunggu orang-orang di Mekah memeluk Islam. Apabila Mekah Mukarramah telah ditawan, setiap kabilah datang berjumpa Nabi S.A.W untuk memeluk islam. Ayah saya bersama beberapa orang lagi sebagai wakil bagi pihak kabilah kami telah turut pergi berjumpa Nabi S.A.W. Baginda S.A.W telah memberitahu mereka hukum-hukum syariat dan mengajarkan kepada mereka tentang solat. Baginda S.A.W juga mengajarkan mereka solat berjemaah. Baginda S.A.W bersabda, ”Sesiapa yang lebih banyak mengingati al-Quran di kalangan kamu ialah lebih afdal untuk menjadi imam.”

Oleh kerana saya selalu mendengar dan menghafal ayat-ayat daripada mereka yang datang dari Madinah maka sayalah orang yang paling banyak menghafal al-Quran. Apabila mereka mencari, mereka mendapati dalam kabilah kami, sayalah yang paling banyak menghafal ayat al-Quran. Maka sayalah yang dijadikan Imam. Pada masa itu umur saya antara enam hingga tujuh tahun. Apabila ada perhimpunan atau pun solat jenazah maka sayalah yang dijadikan imam.” [Bukhari & Abu Daud].

Sunday, June 8, 2008

Percutian Mabul

BismiLlah hir Rahman nir Rahim..

Alhamdulillah..segala puji hanya milik Allah.. yang masih sudi memberi aku peluang untuk menulis.. sedikit coretan kali ini pasal percutian keluarga baru2 ini..alhamdulillah, akhirnya selamat juga sampai ke rumah setelah bercuti lima hari di Semporna sabah.. Segala puji dan syukur untuk-Mu Tuhan di atas peluang ini.. Peluang untuk menghayati keindahan alam ciptaan Tuhan yang Maha Indah dan peluang bersama keluarga tersayang..

Perjalanan untuk sampai ke destinasi lebih kurang setengah hari perjalanan..jauh tuh.. bertolak selepas subuh, dan tiba ke destinasi di akhir waktu maghrib..Tapi tak terasa sangat, sebab bersama rombongan keluarga..akhirnya sampai juga ke destinasi pertama (Semporna, Sabah).. Memang first time jejak kaki kat sini, walaupun dah bertahun2 hidup kat sabah..hehe..sebelum nih tgk kat TV jer la pasal pulau2 sabah nih..:)

Segala puji dan syukur lagi untuk-Mu Tuhan..SubhanAllah..cantiknya ciptaan Tuhan.. ana memang peminat pantai..sekali sekala bercuti di pantai, memang menyenangkan dan amat2 lah mententeramkan jiwa..

Dawn Challet

Destinasi seterusnya..ke Pulau Mabul.. perjalanan ke Pulau Mabul dari Semporna memakan masa lebih kurang 2 jam dengan menaiki bot. Di sepanjang perjalanan tuh mata tak habis2 pandang alam ciptaan Tuhan..SubhanALlah..cantik betul pantai.. terasa diri begitu kerdil dengan keindahan alam semula jadi, keluasan laut yang memukau..air yang jernih..Allah..memang cantik..Keindahan yang memukau di tengah2 lautan..teruja sangat2 tengok pulau (maklumlah tak pernah jejak..hehe)..

Air cetek di tengah2 lautan

SubhanALLAH..menurut kata boat driver tuh, air laut tuh memang cetek.. kalau tengah hari, boleh jalan kaki jer ke Semporna daripada Pulau Mabul disebabkan kecetekan air tuh..Bot terpaksa di slowkan sebab air yang cetek.. rasa cam nak terjun jer.. tapi takut pulak sebab berada di tengah2 lautan..lebih kurang 5 minit selepas tuh, paras air dah makin tinggi, bot pun semakin laju..destinasi tak sampai lagi..tapi alhamdulillah pulau tuh dah nampak daripada jauh lagi...masyaAllah..




Sampai ke destinasi, terasa nyaman.. walaupun penat sikit dengan cuaca yang agak panas..tapi seronok dengan orang2 kampung yang melayan dengan begitu mesra.. selepas memberi sedikit buah tangan dan merasa sedikit buah tangan daripada mereka, perjalanan kaki diteruskan untuk mencari port bermandi manda.. terasa nak mandi, tapi disebabkan cuaca yang agak panas...tak jadi pulak.. adik2 kecik jer yang mandi..Selesai bermandi manda, sembang2 pulau..kami meneruskan perjalanan untuk balik ke Semporna. Menurut boat driver tuh, tak leh lelama..sbb takut ombak makin besar.. maklumlah dengan kepadatan bot tuh dengan jumlah 17 orng.. budak2 kecik pun ramai.. driver tuh naik risau..tapi alhamdulillah..perjalanan kami dimudahkan Allah s.w.t.. Segala puji dan syukur untuk Tuhan..






Alhamdulillah..selamat tiba di Semporna.. syukur ke hadrat Allah.. Sebenarnya di awal perancangan, Pulau Sipadan pun salah satu destinasi percutian..tapi disebabkan beberapa hal, terpaksa cancel.. rupanya bukan senang untuk ke pulau Sipadan.. terpaksa minta kelulusan kerajaan.. itu bukanlah masalah sebenarnya sebab memang dah minta, cuma keadaan di sana yang tak mengizinkan..tak tau kenapa..agaknya sebab cuaca ataupun keluarga kami yang terlalu ramai dengan budak2 kecik dan anak2 dara..:) wallahu'alam... semuanya dalam pengetahuan Allah..Bersyukur dengan ketentuan Allah, semuanya dimudahkan..balik dengan selamat..tiba di challet..sessi untuk merehatkan diri pulak..






p/s: Percutian kali ini agak panjang juga kisahnya, untuk yang sudi mengikuti kisah selanjutnya.. bolehlah berpaut pada pautan berikut ya :) http://wardatulshaukah.blogspot.com/2008/06/bercuti-ke-semporna-pulau-mabul-and.html

Friday, May 30, 2008

Kisah Para Sahabat r.a.hum (Bab – Kepahlawanan, keberanian serta keinginan untuk mati syahid)

Bismillah hir Rahman nir Rahim...

Dengan nama Allah...ana nak share lagi beberapa kisah para sahabat yang mulia.. dalam bab peperangan dlm jihad di jalan ALLAH S.W.T..Semoga bermanfaat buat kita yang lemah dalam hanyutan dunia..

1. Do’a Hazrat Abdullah bin Jahsh dan Hazrat Sa’ad r.a.huma

Dalam peperangan Uhud, Hazrat Abdullah bin Jahsh r.a telah berkata kepada Hazrat Sa’ad bin Abi Waqqas r.a, ”Marilah kita berdoa bersama-sama. Setiap orang bedoa sesuai dengan keinginannya dan yang seorang lagi mengaminkan doa itu maka peluang untuk doa itu diterima ialah lebih besar.” Kedua-dua mereka telah pergi ke suatu penjuru dan berdoa.

Mula-mula Hazrat Sa’ad berdoa, ”Ya Allah, esok sewaktu peperangan berlaku, temukanlah untukku seorang lawan yang sangat berani dan dia melawan dengan bersungguh-sungguh. Biarlah dia menyerangku dengan garang dan aku juga menyerangnya dengan hebat. Kemudian kurniakanlah kepadaku kemenangan ke atasnya supaya aku dapat membunuhnya di jalan-Mu dan supaya dapat aku memiliki harta rampasan.” Maka Hazrat Abdullah r.a telah mengatakan ”Amin”.

Selepas itu Hazrat Abdullah r.a pula berdoa, ”Ya Allah, esok dalam medan peperangan, temukanlah aku dengan seorang pahlawan yang akan menyerangku dengan hebat. Aku akan menyerangnya dengan sungguh-sungguh dan dia pun akan melawanku dengan hebat. Kemudian biarlah dia membunuhku lalu memotong hidung dan telingaku. Kemudian pada hari akhirat apabila dibentangkan amalanku di hadapan-Mu, Engkau akan berkata, ”Wahai Abdullah, kenapakah hidung dan telingamu dipotong?” Lalu aku akan menjawab, ”Ya Allah, hidung dan telingaku ini telah dipotong di jalan-Mu dan di jalan Rasul-Mu.” Kemudian Engkau akan berkata, ”Benarlah, ia telah dipotong di jalan-Ku.” Hazrat Sa’ad r.a pun berkata ”Amin”.

Pada keesokan hari, peperangan telah berlaku. Doa kedua-dua mereka telah dimakbulkan sebagaimana yang telah dipinta (Tarikhul-Khamis). Hazrat Sa’ad r.a berkata, ”Doa Abdullah bin Jahsh r.a lebih baik daripada doaku. Pada waktu petang aku dapati telinga dan hidungnya telah dicucuk dengan benang.”

Dalam peperangan Uhud itulah, pedang Hazrat Sa’ad r.a telah patah. Rasulullah S.A.W telah memberi sebatang ranting kepada beliau yang kemudiannya bertukar menjadi pedang sebaik sahaja dipegang oleh beliau. Pedang itu menjadi miliknya untuk beberapa lama dan kemudian dijual dengan harga dua ratus dinar.

2. Keberanian Hazrat Ali r.a dalam Peperangan Uhud.

Orang-orang Islam telah mengalami kekalahan dalam peperangan Uhud. Sebab utama kekalahan tersebut ialah kerana tentera-tentera Islam tidak melaksanakan satu perintah Nabi S.A.W yang kisahnya ada disebut di hadis yang lain. Pada masa itu, orang Islam dikepung oleh orang kafir. Keadaan ini telah menyebabkan ramai tentera Islam gugur syahid dan ada juga yang lari. Rasulullah S.A.W juga telah dikepung oleh satu kumpulan orang kafir. Mereka telah menyebarkan khabar angin bahawa Rasulullah S.A.W telah syahid. Akibat daripada berita tersebut, para sahabat r.a.hum sangat sedih serta susah hati. Oleh kerana itu, ramai di kalangan mereka yang telah lari dan ada yang berpecah ke sana sini.

Hazrat Ali r.a berkata, ”Apabila orang kafir telah mengepung orang-orang Islam dan Rasulullah S.A.W telah hilang daripada pandanganku maka aku telah mencari Baginda S.A.W di kalangan orang yang masih hidup tetapi tidak juga aku temui. Lalu aku mencari Baginda S.A.W di kalangan syuhada. Di situ juga aku tidak menemui Baginda S.A.W. Aku berkata dalam hatiku, ”Tidak mungkin sama sekali Rasulullah S.A.W lari dari medan perang. Nampaknya Allah S.W.T telah murka ke atas kami kerana perbuatan kami. Oleh sebab itu, Allah mengangkat Rasul-Nya yang suci ke langit. Sekarang tidak ada yang lebih baik bagiku kecuali aku juga merempuh ke tengah kumpulan musuh bersama pedangku sehingga aku mati. Aku telah meyerang musuh-musuh dengan pedang sehinggan mereka terlerai dari tengah medan dan serta merta aku ternampak Rasulullah S.A.W.

Aku gembira tidak terkata. Aku yakin bahawa Allah S.W.T telah memelihara kekasih-Nya dengan perantaraan para malaikat. Aku pergi ke sisi Baginda S.A.W dan berdiri di situ. Tiba-tiba satu kumpulan orang kafir telah datang hendak menyerang Rasulullah S.A.W. Baginda berkata, ”Wahai Ali, halaulah mereka.” Aku pun menyerang kumpulan musuh itu berseorangan diri sehinggan aku dapat menghalau mereka dan telah membunuh beberapa orang dari mereka.

Selepas itu, satu lagi kumpulan musuh mara untuk membunuh Rasulullah S.A.W. Baginda pun mengisyaratkan kepadaku. Aku pun menentang mereka berseorangan diri.” Selepas itu Hazrat Jibril a.s datang memuji Hazrat Ali r.a kerana keberanian dan keperwiraannya.

Lalu Rasulullah S.A.W bersabda, ”Sesungguhnya dia daripadaku dan aku daripadanya.” Perkara yang dimaksudkan Rasulullah S.A.W itu ialah penyatuan yang sempurna. Lalu Jibril a.s pun berkata, ”Dan aku daripada kamu berdua.” (Qurratul-’Uyum)

Monday, May 26, 2008

Poligami - Mampukah anda Berlaku Adil?

Berkahwin lebih dari satu sering menjadi tajuk perbualan rancak, tak kiralah sesama remaja, lebih-lebih lagi kalangan yang dewasa dan yang tua-tua. Ia bukan hanya menjadi bualan di kedai-kedai kopi, pusat-pusat hiburan malah di serambi masjid dan surau juga kadangkala. Lantaran Islam membenarkan poligami, namun tidak ramai pula menimbangkan secara serius syarat-syarat yang dikenakan ke atas mereka yang berniat untuk berbuat demikian, sekadar bersuka-suka membayangkan yang enak dan indah-indah belaka.


Walaupun ianya dibenarkan Islam dengan pelbagai syarat dan sememangnya merangsang naluri lelaki, namun tidak ramai yang tergamak mengamalkannya.

Saya secara peribadi merasakan diri saya tidak layak, apalagi menghayati ayat-ayat Allah yang terselit dengan syarat-syarat yang sangat berat itu. Allah swt berfirman:

.....maka berkahwinlah dengan sesiapa yang kamu berkenan dari perempuan-perempuan (lain): dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu bimbang tidak akan berlaku adil (di antara isteri-isteri kamu) maka (berkahwinlah dengan) seorang sahaja..... (an Nisa:3)

Memang nafsu sentiasa menghambat kehidupan seseorang lelaki normal, dengan lampu hijau yang diberikan, apakah nafsu semata-mata menjadi kriterianya? Bagaimana pula dengan keadilan yang merupakan prasyaratnya? Mungkin ada yang mampu berlaku adil, tetapi saya rasa saya tidak. Adil bukan sekadar berbahagi-bahagi hari sesama isteri, adil juga dari sudut nafkah belanja, bagaimana pula saikolgi anak-anak?

Saya tidak bermaksud mahu menyinggung mereka yang sedang mengamalkannya, teruskanlah selagi mana anda memenuhi syarat-syaratnya. Saya yang tidak mampu lalu kerana itu saya menyuarakannya di sini. Melihat wajah gembira Mohamed Nor Awang di dada-dada akhbar berserta tiga isterinya, saya hairan bagaimana beliau mampu? Mungkin dari sudut batinnya beliau serba mampu, tetapi dari aspek yang lain?

Terus terang saya nyatakan kadangkala saya merasakan saya tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak saya sendiri, ada yang lebih saya manjakan, ada yang kurang. Malah terhadap isteri saya yang seorang pun kadangkala saya merasakan saya berlaku tidak adil kepada beliau, terlalu membebankannya, membiarkannya menguruskan hal anak-anak dan rumah sedang saya sibuk dengan tugas-tugas saya. Oleh itu bagaimana mereka yang berpoligami, anak-anak dari isteri-isteri yang lain, bagaimana dengan percutian, bagaimana dengan pakaian, bagaimana dengan belanja, memang saya tidak boleh bayangkan.

Nabi Muhammad saw sebagai penghulu dan pemimpin kita memang tidak siapa pertikaikan, jangankan terhadap isteri-isteri Baginda malah kepada umatnya, di bawah bimbingan Allah swt beliau memang adil. Tetapi siapalah kita berbanding Baginda?


Kalau dengan pendapatan RM1,500 sebulan Mohamed Nor dapat hidup dengan adil dan sakasama menanggung 3 isteri dan 18 orang anaknya serta mahu menambah pula seorang lagi isteri, bagi saya memang beliau insan luar biasa yang perlu dicontohi mereka yang lain. Tetapi jika tidak, saya merasakan beliau hanya menyalah-gunakan kelonggaran yang diberi oleh Islam, sekaligus memberi kesan yang buruk kepada agama.

Dipetik dari http://n32.blogspot.com/2008/05/mampukah-anda-berlaku-adil-berkahwin.html

ana tengah survey2 blog beberapa org sahabat tadi..terjumpa artikel pasal poligami.. bicara tentang plogami nih, semua suka lebih2 lagi kaum lelaki..tapi lain pula dengan kaum wanita..isu ni memang sensitif sikit :)

Menurut pandangan ana yang tak seberapa ni, poligami adalah suruhan Allah Ta'ala yang Maha Adil lagi Maha Penyayang.. setiap kejadian dan suruhan Allah pastilah menyimpan seribu hikmah yang tak mampu dicapai dek akal fikiran kita.. Setiap kali bicara poligami, golongan yang paling menentang dan benci pasal isu nih tak lain tak bukan adalah kaum wanita.. ana bukan nak bincang pasal kedengkian dan kebencian wanita.. nantilah insyaAllah ada keizinan Allah Ta'ala, ada susulannya pula kenapa wanita sekarang tak sukakan poligami..

Merujuk pada tajuk sang penulis "Mampukah anda berlaku adil" adalah merujuk pada kaum lelaki bagaimana kemampuan mereka untuk berlaku adil dalam mendidik isteri2 yang ramai, anak2 yang ramai, malah ahli keluarga belah isteri yang ramai..Alhamdulillah segala pujian hanya milik Allah yang menjadikan poligami adalah perkara mudah bagi kaum wanita yang memerlukan.

Ana sukakan poligami :) tapi bukan bermakna ana suka nak dipoligamikan..huhu.. cukuplah hanya Dia yang Maha Tahu hikmah di sebalik kejadian-Nya..ana percaya ada juga segelintir wanita di luar sana yang cintakan Allah dan Rasul-Nya tak kisahkan poligami asal sahaja suami mampu berlaku adil..

Bicara tentang adil, ia mestilah berhubungkait dengan iman seseorang juga.. Adil bukanlah bermaksud adil dalam memberikan nafkah zahir dan batin sahaja.. tapi segala galanya..zahir dan batin, fizikal dan mental, luar dan dalam..segala galanya kena adil.. apa nak bg makan kat isteri pertama, kenalah sama dengan isteri2 yang lain..isteri pertama tak bleh lebih dari isteri2 yang lain (nanti isteri2 lain cemburu). Isteri2 yang lain tak bleh cantik dari isteri pertama (takut isteri pertama pulak makan hati, tp susahlah.. sedangkan suami skarang nak cari isteri yang lebih cantik..no komen la). Selain itu, perkara2 remeh pun turut diambil kira bak kata penulis artikel di atas seperti percutian, perbelanjaan, etc.

"Barang siapa yang mengahwini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus" (Jรขmi’ al-Ushรปl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049).

Ana tak salahkan mahupun menghukum andainya setiap lelaki berniat untuk berpoligami (sdh menjadi lumrah agaknya), tapi sekurang2nya tuntutlah ilmu terlebih dahulu.. bukan mudah utk kita melakukan sesuatu tindakan tanpa ilmu yang benar.. rujuklah Kitab Suci al-Quran, rujuk lah sunnah2 Baginda S.A.W..insyaAllah, tujuan berpoligami bkn utk suka2 menurut hawa nafsu sahaja, tetapi matlamat utama perkahwinan adalah untuk memartabatkan agama Allah yang suci.. melahirkan generasi da'ei dan seterusnya memberikan kemuliaan untuk para wanita sebagaimana Allah telah memuliakan wanita makhluk ciptaan-Nya.

Setiap isteri adalah amanah, anak2 juga amanah..setiap amanah pastilah ditanya oleh Yang Memberikan Amanah tersebut..

"Ketahuilah, setiap kalian adalah penanggung jawab dan akan ditanyai tentang tanggung jawabnya. Seorang pemimpin yang memimpin manusia adalah penanggung jawab dan kelak akan ditanya tentang mereka. Seorang laki-laki adalah penanggung jawab atas keluarganya dan kelak dia akan ditanya tentang mereka. Seorang istri adalah penanggung jawab rumah tangga dan anak-anak suaminya, dan kelak akan ditanya. Seorang hamba sahaya adalah penanggung jawab harta tuannya dan kelak dia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah penanggung jawab dan kelak akan ditanyai tentang tanggung jawabnya." (HR. Al-Bukhari no. 5188 dan Muslim no. 1829)

http://rinrinjamrianti.multiply.com/reviews/item/37